Berita kali ini akan menghadirkan informasi berita bola dari Tim Nasional Indonesia yaitu Jangan Tiru Juara, Jangan Takut Tiru Pecundang, setelah sebelumnya kami telah menghadirkan berita bola lainnya dari yaitu Prediksi Togel Hongkong Jumat 17 Oktober 2014 khusus bagi sobat para pecinta sepakbola dimanapun berada.
![]() |
| Jangan Tiru Juara, Jangan Takut Tiru Pecundang |
Musim panas 1992 bergulir. Mayoritas pemain Denmark sedang menikmati libur off season di pantai. Mendadak telepon berbunyi, Denmark harus mengikuti Euro 1992. Singkat cerita, dari berjemur di pantai dan latihan singkat, Denmark juara Euro 1992. Beranikah kita meniru Denmark dan mengatakan: “Ayo persiapkan tim kita dengan berjemur di pantai dan latihan singkat”?
Piala Dunia 1974, Belanda tampil atraktif dengan permainan revolusioner bertajuk "Total Football". Sayang tim asuhan Rinus Michels kalah di final dari Jerman. Mampukah Anda tidak menirunya dan mengatakan: “Jangan mainkan total football, nanti tidak juara!”. Jika Cryuff dan Pep Guardiola yang mengatakan itu, tiki-taka Barcelona takkan pernah ada.
Dalam sepakbola, baik sukses atau gagal, selalu ada 1001 hal yang mengiringi. Hal baik maupun buruk. Celakanya, orang cenderung hanya meniru juara. Lebih parahnya, orang meniru hal salah dari sang juara. Sebaliknya orang enggan meniru pecundang, walaupun banyak hal baik yang patut ditiru.
Begitu juga kiprah fenomenal timnas Indonesia U-19. Dalam dua tahun ini, terjadi 1001 hal. Ada yang berkontribusi pada kesuksesan. Banyak hal yang juga berkontribusi pada kegagalan. Dengan penelaahan kritis, izinkan penulis untuk berupaya mengurai hal baik dan buruk yang terjadi selama proses pembinaan tim berjalan. Tentunya agar insan sepakbola bisa belajar untuk MENIRU HAL BAIK saat Timnas U19 jadi JUARA, maupun jadi PECUNDANG!
Filosofi Sepakbola
Hal positif pertama dari Timnas U-19 adalah kelengkapan stafnya. Seperti diketahui, coach Indra Sjafri didukung oleh asisten pelatih, pelatih kiper, pelatih fisik, pelatih mental, dokter, dan fisioterapis. Terakhir, masih ditambah lagi dengan nutrisionis. Hampir semuanya memiliki latar belakang sepakbola kental. Pelatih fisik dan mental memiliki lisensi sepakbola sehingga memudahkan integrasi multidisipliner berbasis sepakbola.
Basis SDM sepakbola kental memudahkan staf Garuda Jaya menanamkan filosofi sepakbola yang kental pula. Filosofi sepakbola menyerang yang berbasis pada penguasaan bola. Di dalamnya ditopang dengan passing-pasing pendek plus panjang mematikan. Karakter ini dibangun dengan suatu pendekatan latihan yang berbasis sepakbola juga. Pada kasus fisik misalnya, Garuda Jaya mampu mencapai level fisik prima hanya dengan berlatih sepakbola, bukan yang lain.
Bukan rahasia lagi, resep coach Indra Sjafri membangun Garuda Jaya adalah dengan optimalisasi talent scouting. Coach Indra bukan orang yang gampang puas dengan materi pemain yang telah dimilikinya. Ia rajin berburu data kepada siapa saja, lalu memastikan informasi tersebut dengan cara blusukan melihat langsung pemain.
Sepanjang dua tahun, Timnas U-19 telah mencoba ratusan pemain dan berbagai daerah di Indonesia. Bahkan pada masa persiapan, skuat Garuda Jaya terkenal gemuk dan lambat dalam melakukan pencoretan. Ini dilakukan untuk terus menggali potensi maksimal yang dimiliki pemain. Bisa dikatakan tiada hari tanpa seleksi.
Hal positif terakhir yang amat signifikan pada sukses Timnas U-19 adalah tingginya fanatisme dan kebanggaan terhadap lambang Garuda. Seluruh punggawa Timnas U-19 terlihat memiliki kecintaan pada tim nasional yang akhirnya berujung pada komitmen dan tingginya daya juang. Ini menarik, sebab di tengah modernisasi dan hantaman globalisasi, coach Indra sukses menanamkan nasionalisme sebagai pendorong sukses.
Piala Dunia 1974, Belanda tampil atraktif dengan permainan revolusioner bertajuk "Total Football". Sayang tim asuhan Rinus Michels kalah di final dari Jerman. Mampukah Anda tidak menirunya dan mengatakan: “Jangan mainkan total football, nanti tidak juara!”. Jika Cryuff dan Pep Guardiola yang mengatakan itu, tiki-taka Barcelona takkan pernah ada.
Dalam sepakbola, baik sukses atau gagal, selalu ada 1001 hal yang mengiringi. Hal baik maupun buruk. Celakanya, orang cenderung hanya meniru juara. Lebih parahnya, orang meniru hal salah dari sang juara. Sebaliknya orang enggan meniru pecundang, walaupun banyak hal baik yang patut ditiru.
Begitu juga kiprah fenomenal timnas Indonesia U-19. Dalam dua tahun ini, terjadi 1001 hal. Ada yang berkontribusi pada kesuksesan. Banyak hal yang juga berkontribusi pada kegagalan. Dengan penelaahan kritis, izinkan penulis untuk berupaya mengurai hal baik dan buruk yang terjadi selama proses pembinaan tim berjalan. Tentunya agar insan sepakbola bisa belajar untuk MENIRU HAL BAIK saat Timnas U19 jadi JUARA, maupun jadi PECUNDANG!
Filosofi Sepakbola
Hal positif pertama dari Timnas U-19 adalah kelengkapan stafnya. Seperti diketahui, coach Indra Sjafri didukung oleh asisten pelatih, pelatih kiper, pelatih fisik, pelatih mental, dokter, dan fisioterapis. Terakhir, masih ditambah lagi dengan nutrisionis. Hampir semuanya memiliki latar belakang sepakbola kental. Pelatih fisik dan mental memiliki lisensi sepakbola sehingga memudahkan integrasi multidisipliner berbasis sepakbola.
Basis SDM sepakbola kental memudahkan staf Garuda Jaya menanamkan filosofi sepakbola yang kental pula. Filosofi sepakbola menyerang yang berbasis pada penguasaan bola. Di dalamnya ditopang dengan passing-pasing pendek plus panjang mematikan. Karakter ini dibangun dengan suatu pendekatan latihan yang berbasis sepakbola juga. Pada kasus fisik misalnya, Garuda Jaya mampu mencapai level fisik prima hanya dengan berlatih sepakbola, bukan yang lain.
Bukan rahasia lagi, resep coach Indra Sjafri membangun Garuda Jaya adalah dengan optimalisasi talent scouting. Coach Indra bukan orang yang gampang puas dengan materi pemain yang telah dimilikinya. Ia rajin berburu data kepada siapa saja, lalu memastikan informasi tersebut dengan cara blusukan melihat langsung pemain.
Sepanjang dua tahun, Timnas U-19 telah mencoba ratusan pemain dan berbagai daerah di Indonesia. Bahkan pada masa persiapan, skuat Garuda Jaya terkenal gemuk dan lambat dalam melakukan pencoretan. Ini dilakukan untuk terus menggali potensi maksimal yang dimiliki pemain. Bisa dikatakan tiada hari tanpa seleksi.
Hal positif terakhir yang amat signifikan pada sukses Timnas U-19 adalah tingginya fanatisme dan kebanggaan terhadap lambang Garuda. Seluruh punggawa Timnas U-19 terlihat memiliki kecintaan pada tim nasional yang akhirnya berujung pada komitmen dan tingginya daya juang. Ini menarik, sebab di tengah modernisasi dan hantaman globalisasi, coach Indra sukses menanamkan nasionalisme sebagai pendorong sukses.
Itulah informasi terbaru mengenai Jangan Tiru Juara, Jangan Takut Tiru Pecundang
yang dapat kami informasikan buat sobat pecinta sepakbola semuanya
dimanapun berada, mudah-mudahan dapat bermanfaat dan tetap selalu
nantikan update berita terbaru setiap harinya

Anda sedang membaca artikel berjudul 

Bersama kami agen judi terpercaya
BalasHapusRaih Jutaan Rupiah Bersama Kami...
Langsung Saja Kunjungi Kami www.bolavita88.com
Untuk Info, Bisa Hubungi :
WA: +628122222995